Cari Blog Ini

Selasa, 04 Oktober 2016

Kesenian Tradisonal Suku Sasak Lombok sudah diujung tanduk

Indonesia merupakan sebuah negara di Asia Tenggara dimana membentang hamparan alam hijau yang indah permai, birunya laut yang luas, dengan berbagai jenis hayati yang dapat membuat setiap orang terkesima. Tanah yang subur dengan berbagai sumber daya alam yang ada dan hampir semua bangsa di dunia membutuhkannya. Hal itu yang menjadikan beberapa negara ingin menguasai Indonesia dengan cara menjajah namun berkat semangat juang pahlawan, kita dapat merebut lagi negara kita tercinta indonesia dengan kemerdekaan.



Kawasan Indonesia yang terdiri dari banyak pulau membuat Indonesia kaya akan budaya, karena terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, agama, bahasa, dll.  Hal itu dapat memajukan dalam pemanfaatan pariwisata Indonesia. 

Kata kebudayaan berasal dari (bahasa Sanskerta) yaitu "buddayah" yang merupakan bentuk jamak dari kata "budhi" yang berarti budi atau akal, sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. 

Dalam disiplin IBD (Ilmu Budaya Dasar) dibedakan antara budaya dan kebudayaan, karena IBD berbicara tentang dunia ide atau nilai, bukan hasil fisiknya. Secara sederhana pengertian kebudayaan dan budaya dalam IBD mengacu pada pengertian sebagai berikut :
  1. Kebudayaan dalam arti luas, adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
  2. Kebudayaan dalam arti sempit dapat disebut dengan istilah budaya atau sering disebut kultur yang mengandung pengertian keseluruhan sistem gagasan dan tindakan.

Budaya merupakan identitas bangsa yang harus dihormati, dijaga, dan perlu dilestarikan supaya kebudayaan ini tetap ada serta dapat menjadi warisan anak cucu kelak. Budaya yang ada di Indonesia disebut dengan budaya nasional. 

Pulau Lombok misalnya, Nusa Tenggara Barat yang didiami suku Sasak merupakan pulau yang memiliki berbagai ragam kesenian daerah yang unik. Kesenian daerah tersebut ada yang bertahan, tetapi ada juga yang mulai tergeser oleh kesenian modern. Salah satu kesenian daerah yang hampir punah adalah Rudat, Kesenian yang sarat dengan nilai dan mencerminkan budaya luhur dan kearifan masyarakat Sasak di Lombok.

Seni Rudat


Seni Pertunjukan Rudat juga merupakan salah satu atraksi budaya suku Sasak yang cukup tenar dan digemari oleh masyarakat Lombok pada puluhan tahun yang lalu. Namun sayangnya, kegemaran akan seni rudat tidak menurun pada anak jaman sekarang, sehingga sudah jarang kita lihat bahkan kita pun tidak tahu seperti apa itu seni rudat. sedih?  iya, pilu? apalagi , menyaksikan keberagaman budaya kita yang sudah mulai dilupakan.

Rudat adalah sejenis kesenian tradisional yang semula tumbuh dan berkembang dilingkungan pesantren. Seni Rudat merupakan seni gerak/tari dan vokal diiringi tabuhan ritmis dari waditra sejenis terbang. Syair-syair yang terkandung dalam nyanyiannya bernafaskan keagamaan, yaitu puja-puji yang mengagungkan Allah, Shalawat dan Rasul. Syair yang biasa digunakan untuk mengiringi penari rudat di antaranya adalah Thalab-Naba, Khasbiyun,Ya khayyu ya Qayyum. Syair utamanya adalah Shalawat As-Salam, Khasbiyyun, Ya Khayyu Ya Qayyum, dan Shalawat Penutup yang akan mengiringi penari rudat keluar. 
Jika diresapi secara mendalam, syair rudat memiliki makna batin yang kuat. Misalnya syair, “Ya Khayyu ya Qayyum, La khaula wa laa quwwata illa billahi aliyyil adzim.” Syair ini memiliki arti bahwa tiada daya dan upaya tanpa hidayah dan izin Allah. Syair rudat mengisyaratkan munajat dan kepasrahan total akan keterbatasan manusia. Tujuannya adalah untuk menebalkan iman masyarakat terhadap Agama Islam dan kebesaran Allah. Sehingga manusia bisa bermoral tinggi berlandasan agama islam dengan mendekati diri kepada Allah SWT. 

Rudat merupakan tarian yang diiringi oleh musik terbangan dimana unsur tariannya kental dengan nuansa agama, seni bela diri, dan seni suara. Secara gambalang dapat dikatakan bahwa kesenian Rudat adalah panduan seni gerak dan vokal yang diiringi musik terbangan dimana di dalamnya terdapat unsur keagamaan, seni tari dan seni suara. Kesenian Rudat merupakan paduan dari senitari dan seni musik yang bernafaskan islam dan syair-syairnya berupa puji-pujian kepada Allah dan salawat nabi.

Jumlah pemain rudat berkisar antara 12 sampai 24 orang mulai menabuh waditra/alat sebagai penari dan sebagai penyanyi. Waditra yang digunakan tersebut dari bahan-bahan yang ada dilingkungan, jenis Waditranya adalah berbentuk bulat seperti tampayan. Cara menggunakan alat ini dengan dipukul. Tojo, berbentuk bulat seperti tempalan, terbuat dari kayu dan kulit kerbau, cara menggunakan alat ini dengan dipukul-pukul sebagai pokok lagu atau melodi. Nganak, berbentuk bulat seperti temppayan, terbuat dari kayu dan kulit kerbau, memiliki ukuran muka dengan garis tengah 37 cm dan garis tengah belakang 27 cm. Jidor, berbentuk bulat seperti bedug, terbuat dari kayu dan kulit kerbau. Ukuran garis tengah belakangnya 44 cm, dan tingginya 47 cm.

Dari segi geraknya rudat menggunakan gerakan silat, namun dalam permainan Rudat unsur tenaga tidak banyak mempengaruhi. gerakannya terdiri dari gerakan kaki yang serempak ketika melangkah kedepan, belakang dan samping yang melambangkan kebersamaan langkah dan keserasian bentuk koreografi. Kaki, terdiri dari gerak kuda-kuda, adeg-adeg, masekon rengkuh, duku depok dan lain-lain. Tangan, terdiri dari gerak mengepel, tonjok, gibas meupeuh, keprok kepret. Kepala, mengikuti arah tangan yang bergerak yaitu ke seluruh arah. Beberapa gerakan antaralain yang dalam seni rudat antaralain gerakan nonjok, yaitu kaki kanan melangkah ke depan dengan posisi kuda-kuda dan tangan kiri mengepal sementara kepala lurus ke depan. Gerakan gibas, yaitu kaki kanan tegak lurus. Tangan kiri menekuk dengan arah gerak ke kanan. Kepala ke arah kanan dan membalik langsung ke kiri.

Dalam menyajikan kesenian Rudat penari menggunakan kostum seragam yang menandakan bahwa mereka harus hidup rukun dengan tetangga. Adapun bentuk kostumnya terdiri dari busana pria yang terdiri dari celana pangsi hitam, baju putih, selendang, kain samping batik dan tutup kepala. Kesenian Rudat digunakan untuk keperluan penyambutan tamu pada acara pernikahan, khitanan, mauludan, dan rajaban.

Saat bisa dikatakan kesenian tradisional ini hampir punah, hal itu karena antusias masyarakat untuk mempertahankan kesenian Rudat di pulau Lombok sudah memudar
Mengapa hal itu bisa terjadi? sebab berkembangnya media yang menayangkan berbagai jenis hiburan yang lebih menarik. Sehingga secara tidak langsung kesenian Rudat ataupun kesenian-kesenian tradisional lainnya berlahan-lahan dilupakan oleh masyarakat

Selain itu, memudarnya seni pertunjukan tradisional seperti Rudat dan tarian-tarian tradisinal Lombok lainnya juga disebabkan oleh terkontaminasinya unsur seni pertunjukan tradisional oleh seni pertunjukan ataupun seni musik modern.

Televisi yang terlalu banyak menampilkan acara-acara dari negara lain, korea contohnya membuat anak muda lebih mencintai kebudayaan korea dari pada kebudayaan negara sendiri. Tak sedikit, anak muda sekarang bisa menggunakan bahasa asing dari negara tersebut dan bahkan lagu serta tariannya mereka begitu mahir memeraktikannya. Bagus kok, pengetahun jadi bertambah, namun salahnya adalah masyarakat jadi sangat tidak perduli dengan kesenian daerah sendiri, salah satunya rudat. Perkembangan teknologi ternyata merupakan hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap pemikiran masyarakat.

Padahal pada masa lalu Seni Pertunjukan Rudat hapir digemari oleh sebagian besar masyarakat Lombok. Hal ini terbukti dengan berkembangnya kelompok-kelompok pemain Rudat di berbagai daerah Lombok. Di Lombok Timur terdapat puluhan kelompok pemain Rudat, yang seperti di Senang, Peneda Gandor, Labuhan Haji, Sakra, Terara dan sebagainya. Di Lombok Utara terdapat beberapa kelompok Rudat di sekitar Kecamatan Bayan, Kayangan, dan Pemenang. Di Lombok Tengah, serta Lombok Barat juga demikian halnya. Namun, saat ini kelompok-kelompok Rudat tersebut sudah hampir punah sebab tersisih oleh atraksi budaya modern yang umumnya tidak mencerminkan nilai luhur budaya kita.

Saya sangat mengharapkan, anak muda indonesia sekarang dapat sadar dan kembali mencintai kesenian rudat ini. Selaku generasi muda diharapkan untuk senantiasa mencoba untuk mengenal, menjaga, dan meslestarikan kesenian tradisional, bukan hanya kesenian rudat namun kesenian tradisional lainnya agar kesenian-kesenian tersebut dapat ditemukan oleh anak cucu kita dan supaya identitas budaya lokal kita tidak hilang ditelan budaya modern dan budaya global. Mungkin pemerintah dapat melakukan pendekatan secara kelompok kepada para pelajar diindonesia dalam menjelaskan seperti apa kesenian rudat ini. Dan selanjutnya, sangat diharapkan kesenian rudat dapat dilestarikan dengan cara mengadakan pementasan sehingga kebudayaan yang kita memiliki semakin banyak dicintai dan tidak menghilang.



Sumber :
  • https://www.google.co.id/search?q=peta+indonesia&espv=2&biw=1366&bih=613&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0ahUKEwjD2NbG0cHPAhVJPY8KHXXMDbgQsAQIHA#imgrc=CSMwRrDd60pj8M%3A
  • http://www.kaskus.co.id/thread/5417ece81cbfaa69658b4575/rudat---kesenian-tradisional-suku-sasak-lombok-yang-hampir-punah/
  • http://budaya.kampung-media.com/2014/05/10/lestarikan-rudat-yang-hampir-sekarat-3007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar